Apa yang Salah dengan Metromini

Kadang saya suka iseng, klik sana sini iklan yang beredar. Suka memperhatikan dari segi copywriting dan nebak-nebak berapa konversi yang dia dapat. Kadang malah jadi kepo dia ngiklan di mana aja. Lagi iseng baca iklan sebuah MLM di landing page, eh salah satu kata katanya ada “Kami terbiasa naik METROMINI”. Kata Metromininya di capslock semua. Ngga ada kata lain cuma satu kalimat aja.

Saya jadi bingung bacanya. Ada yang salah dengan Metromini? Karena kalimat tersebut terletak di bagian yang intinya ” kami dulu susah”. Sekarang udah ngga susah karena naik mobil. Lha macam OKB ajah jadinya wekekek. Tapi masa iya sih orang yang terbiasa naik metromini termasuk kategori susah.

Saya sendiri adalah penggemar metromini. Dan buat saya, metromini adalah salah satu transportasi yang bagus dan tepat untuk kawasan Jakarta. Konsepnya sudah teruji mampu menjangkau seluruh kota dengan tarif yang sangat murah. Mana ada sih angkutan yang bisa menjangkau dari ujung barat ke tengah kota Jakarta atau ujung selatan ke tengah. Semua jalurnya sangat merata dan enaknya bisa turun di mana saja. Ngga harus di halte tertentu atau naik tambahan angkot kalau yang dituju ada di pinggir jalan. Apalagi saking ngebutnya kejar setoran, bisa tiba lebih cepat dan saking jagonya itu supir bisa minim sekali kecelakaan.

Dan saya salah satunya yang bersyukur ada metromini dan bisa naik tiap hari sewaktu harus menjelajah Jakarta. Sejauh yang saya tau, belum ada yang menandingi kehebatan metromini dalam hal jangkauan. Sebut saja kereta api dan Trans Jakarta. Untuk kawasan lebih sempit, satu-satunya yang bisa menyaingi hanyalah angkutan kota. Bahkan ojek dan bajaj pun terasa mahal buat saya.

Saya yakin, dalam beberapa waktu ke depan metromini akan menjadi salah satu transportasi yang dipakai lebih banyak orang. Iyalah kalau harga BBM udah selangit, orang mikir bisa beli mobil tapi ngga bisa beli bensin. Dan terasa lebih efisien dan efektif dengan mengunakan angkutan Metromini. Dan kalimat Kami terbiasa naik METROMINI bisa jadi berubah menjadi Kami terbiasa naik METROMINI lagi wekekek *becanda.

Trus dimana kelihatan susahnya? Apa karena harus berdesakan, yang padahal nunggu berikutnya juga bisa. Atau banyak copet yang kalau kita tidak memancing dengan mengeluarkan smartphone juga bisa aman. Atau panasnya dalam metromini yang kayaknya belahan Indonesia mana sih yang ngga panas. Atau takut pemerasan yang mereka padahal cuman minta seribu dua ribu perak aja. Atau kemacetan luar biasa yang bikin bosan, yang bisa aja tidak kita rasakan. Atau ini atau itu. Ah perasaan situ aja kali.

Iya perasaan dalam diri sendiri kalau naik metromini adalah bentuk kesusahan dan terhina. Rasanya naik metromini bisa jadi jualan yang menarik di landing page itu, tapi ngga buat saya. Karena apa? Saya suka sekali dengan quote ini :

Orang yang tidak bisa bahagia dengan memiliki sedikit maka dia tidak akan bahagia juga dengan memiliki banyak.

Advertisements

26 thoughts on “Apa yang Salah dengan Metromini

  1. Dulu waktu ngantor saya lebih sering naik kendaraan umum. Bukan alasan masih susah apa enggak. Nyetir mobil dari bekasi sampe Karawaci pp itu bikin cape fisik dan hati. Mendingan naik kendaraan umum, deh. Syukur-syukur bisa dapet tempat duduk. hehehe

    Tapi, sebetulnya saya memang berharap bangeeett transportasi umum di kita itu semakin baik. Biar semakin banyak lagi yang mau naik kendaraan umum. Karena kalau semakin banyak yang naik kendaraan umum, mungkin bisa mengurangi kemacetan

  2. Aku sih lebih suka naik ojeg drpd metromini.
    Yahh kalo ojegnya jual mahal, lebih baik naik kereta, masih bisa gagdetan and kerja buka laptop di jalan :))
    Kalo metromini kan buka tas dikit aja udah rawan bingitss …

  3. Kalau pergi sendiri atau sama orang dewasa, metromini salah satu angkutan plihanku juga. Murah dan cepat. Betul, kt Mbak Shinta, cepat sampai kl lg rebutan setoran alias ngebut 😀

    Pemerintah kudu menaikkan pamor metromini kl mau hemat BBM dan kurangi macet.

  4. metromini modanya banyak kalaupun berdesak-desakan tetep masih bisa berdiri ya mbak itu juga di jam kerja pagi atau pulang kerja. Kalau di Bekasi adanya tiga perempat namanya bukan metromini. Memangnya kalau sudah punya mobil gak boleh lagi naik metromin ya, wah jadi diskriminasi banget ya. Secara saya pengguna angkutan umum juga

  5. saya sih ingetnya kalau naik metromini ga pernah kena macet. Adaaa aja celah buat si supir metromini buat menghindari kemacetan yang sering buat pengendara mobil pribadi misuh-misuh karena takut mobilnya tergores hihihihi ^^

  6. Adyuh… padahal aku ini pecinta transportasi umum loh.. Mbok ya jangan direndahkan begitu ya harusnya. Malahan menggunakan transportasi umum merupakan salah satu solusi mengurangi kemacetan. 🙂

  7. Meski tak pernah naik metromini, saya sudah membayangkan sensasi luar biasanya.
    Deak-desakan, copet panas dan lainnya membuat saya ingin menikmatinya. 😀

    Salam..

  8. Wuuuih, buatku metromini dan angkutan umum, cukup mak jleeb hehehe, riil.
    Maka bagiku, tulisan ini mengispirasiku untuk buat tulisan juga, .
    Kalo ntar ada yang akan kukutip sedikit akan kutulis namamu cik gu.

  9. Aku juga penggemar metromini. Anak-anak pun dibiasakan naik metromini kalau pergi denganku meski sejak bayi kalau sama ayahnya naik mobil. Jadi nggak salah kan naik metromini?

  10. Sedikit menyambung dengan kata-kata terakhir, “ternyata ini ada kaitannya” bahwa barang siapa yang tak mampu bersyukur dengan yang ‘sedikit’ maka ia tak kan mampu bersyukur dengan yang ‘banyak’.

    Salam kenal mba`, senang berkunjung ke blog ini..
    Kunjungan perdana… hehehe 

  11. aku aja kangen banget naik metromini,palig suka duduk di pojok atau belakang kursi supir,jendela dibuka sambil makan cilok.asiknyaaa….sayang banget di siak g ada kendaraan umum

  12. Zaman kerja, saya suka naik metromini, kopaja. Tapi semenjak hamil, entah kenapa suka berasa mual naik metromini. Ituloh kalau bawanya kenceng banget mba. Tapi, iklan apa mba?

  13. pengguna bisa 3/4 jurusan cikampek-pulogadung. haha semacam metromini juga. dengan segala keriuhannya..yang kadang pas pulang kerja malah melepas penat di sana dnegerin dangdut pantura hhahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s