Si Calistung

Jadi waktu itu, lagi heboh-hebohnya tentang calistung karena ada ibu yang cukup berpengaruh yang ngetweet tentang calistung ini. Pasti tau deh kalo emak-emak ya hehehe. Karena jadinya kan heboh banget dan banyak yang komen sana-sini. Tapi saya, kayaknya mendingan nulis di blog, itu pun setelah hebohnya hilang. Males soalnya berdebat sana-sini. Jadi saya cuman mau share aja, antara ngikutin saran pemerintah (yaitu tidak calistung sewaktu TK) dan ngga ngikutin (alias calistung waktu TK).

Untungnya saya punya dua anak yang bisa diuji coba hehehe. Jadi saya ama suami memang mengakui, mau tidak mau, anak-anak akan menjadi uji coba setiap kebijakan yang kita buat. Apa mau dikata, tidak seperti jaman dulu yang semuanya sudah fixed dan tinggal ngikutin. Hidup di jaman sekarang ini serba tidak jelas, terutama untuk mengambil keputusan yang tepat.

Jadi kami menguji bagaimana pengaruh antara calistung kepada dua anak saya. Baik itu untuk masa depan (dalam hal ini adalah masuk sekolah) dan proses belajarnya. Sewaktu melakukan hal ini, sama sekali sih ngga pernah berpikir kalo diluar negeri gimana, kalo ngga diajarin gimana, kalo diajarin gimana. Jadi betul-betul fokus hanya ke tujuan sekolah anak. Which is, berbanding terbalik dengan yang ditetapkan pemerintah dan yang ada di lapangan.

Kasus Pertama

Anak pertama saya, Aliya yang imut itu. Sekolah dalam usia yang masih muda. Karena lahirnya di akhir tahun jadi berasa sangat tanggung. Saya yang punya pengalaman sekolah usia muda, merasa tidak masalah dan tidak terbatasi dengan usia, toh nyatanya saya mampu bersaing dengan yang satu kelas dan usia lebih tua. Well, karena waktu itu katanya calistung dilarang diajarkan pada anak TK. Saya juga berpikir untuk tidak mengajarkannya calistung. Tapi hal berbeda ternyata terjadi di sekolah. Tentunya diajarkan calistung bahkan membuka les calistung juga setelah sekolah usai.

Alasannya sih karena SD mewajibkan anak-anak wajib sudah bisa calistung untuk diterima. Saya cross check ke ibu saya, blio jawab TIDAK. Sekolah tidak menerima anak berdasarkan kemampuan calistung tetapi berdasarkan usia. Noted!. Dan yang terjadi, saya tidak mengajari Aliya, tidak mengeleskannya, tidak memaksanya belajar, tapi Aliya masih bisa calistung dasar namun tidak lancar membaca. Saya lebih senang melihat Aliya bermain ketimbang belajar. Maklum ibu baru yang pengen dilihat baik sama anaknya.

Tapi yang terjadi kemudian saat sekolah, kejadian tidak mengenakkan terjadi. Aliya yang tidak lancar membaca ternyata menjadi masalah di sekolah. Hampir semua temannya sudah bisa membaca. Dan pelajaran di sekolah menjadi cukup rumit karena basisnya tetap harus dibaca. Setiap hari Aliya menjadi sedih dan nangis karena keterbatasannya. Saya juga jadi mengajari membaca setiap malam, tapi tidak mampu mengejar ketertinggalan.

Akhirnya, keputusan baru saya ambil. Membaca adalah kuncinya pada saat sekolah SD. Dan kemudian saya leskan membaca dan berhitung sekalian di komplek sebelah yang memiliki metode cepat. And guess what, dalam waktu sebulan saja, Aliya sudah lancar membaca. Semua jadi terasa mudah untuk dia. Mungkin saja memang sudah saatnya belajar dan memang waktunya hanya dikhususkan untuk belajar.

Dalam waktu singkat, kemampuannya membacanya terus terasah. Sewaktu ujian mid semester, dia juga tidak mengalami kesulitan yang berarti. Bahkan gurunya sampai terheran-heran, bagaimana caranya meningkatkan kemampuan membaca hanya dalam waktu singkat. Dan seketika semua menjadi menyenangkan, Aliya sangat betah sekolah dan tidak tersiksa dengan pelajaran lagi. Bahkan sekarang dia bisa bilang kalau libur itu ngga enak mah hehehe.

Kasus Kedua

Anak kedua saya Rafi, hanya berbeda setahun dengan kakaknya. Tepatnya sebelas bulan hehehe. Jadi sewaktu Aliya masuk sekolah kelas satu, maka kami juga harus menyiapkan Rafi untuk sekolah. Yang artinya, berdasarkan pengalaman terdahulu, Rafi sudah harus dipastikan bisa membaca. Peduli amat dengan anjuran pemerintah, dengan studi-studi tentang membaca sejak dini, toh kita yang ngejalanin bahkan yang repot kita sendiri kalau tidak mengetahui apa yang terbaik untuk anak.

Jadi sewaktu Aliya les calistung, Rafi juga ikut les. Dan Rafi juga memaksa ikut les di sekolah karena banyak teman sekelasnya yang belajar. Pada dasarnya dia sangat kompetitif sekali, jadi minat belajarnya sangat tinggi terutama untuk menjadi yang terbaik. Buat saya, yang terpenting dia bisa membaca dan berhitung. Titik.

Saya ngga mau dia mengalami hal yang bisa menyebabkan depresi kecil seperti kakaknya. Paling tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan memahami dengan benar. Dan capek-capeknya dia belajar ternyata terbayar. Dalam ujian masuk sekolah SD yang katanya psikotes tapi berbentuk soal *saya gagal paham. Rafi bisa dengan mulus mengerjakan dan merasa tidak tertekan dengan hasilnya, yang dia tau bahwa dia bisa. Dia juga bersemangat sekolah SD dengan alasan sekolah SD pulang lebih cepat hehehe.

Jadi kesimpulan akhirnya, tidak masalah kapan pun mau diajarkan calistung ke anak. Yang terpenting saat dia belajar, dia sudah siap. Saat kasus Aliya, dia bisa merasakan bahwa belajar membaca itu penting, sehingga dia tidak merasa terpaksa belajar membaca. Toh saat dia TK dia memang kelihatan lebih senang bermain dan saya membiarkannya. Tapi saat sudah SD, tiba-tiba ada rasa muncul tanggung jawab untuk bisa sekolah dengan baik yang kuncinya adalah membaca.

Pada kasus kedua, Rafi juga menyadari bahwa dia akan kesulitan sekolah kalau dia tidak bisa membaca. Jadi dia sama sekali tidak mengeluh kalau harus belajar les lagi seusai sekolah dengan periode waktu yang panjang dan cukup ketat. Pada akhirnya, semua bisa hepi juga belajar terlepas apa yang disarankan oleh pemerintah. Kuncinya saya rasa tetap di orang tua, yang harus mengenali potensi, kemampuan, kebutuhan anaknya. Intinya, tetap aja harus calistung sejak dini, menurut saya loh wekekek.

Advertisements

4 thoughts on “Si Calistung

  1. kedua anakku diajarkna calistung mbak tapi belajar sendiri di rumah. Soalnya pas masuk SD pasti kesulitan nanti kaau belum bisa baca ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s