Menutup TarikKoper.Com

3 hari lagi domain tarikkoper.com sudah expired. Saya yang sedikit tidak menyangka bahwa waktu akan cepat berlalu secepat ini jadi agak sentimetil. Iya, saya bingung apakah mau meneruskan atau tidak blog tentang travel. Sejujurnya, travel sudah merupakan bagian hidup saya banget. Suka jalan dari kecil. Jadi punya banyak cerita.

Sayangnya, makin ke sini saya makin sibuk dan tidak ada waktu untuk menulis. Karena saya bukan tipe yang bisa nulis sedikit dan hanya basa-basi, kecuali di blog ini. Sudah cukup lama blognya saya anggurin dan hanya sesekali mengisi. Lagi-lagi alasan klasik kalau jadwal menulis rutin saya sudah mulai terganggu.

Awalnya, tulisan di tarikkoper.com adalah tulisan travel yang ada di shintaries.com. Saya pindahkan dengan pertimbangan sudah mulai banyak jumlah tulisannya jadi berpikir untuk menempatkannya di satu blog tersendiri. Awalnya menyenangkan, rutin mengisi. Dan tujuannya apalagi kalau bukan karena pengen jalan-jalan gratis dari blog hehehe.

Bisa sih sebenernya saya perpanjang, tapi rasanya saya sudah mulai kehabisan tenaga untuk me-maintain blog travelnya. Dan alhasil merasa kebingungan apakah mau dimatikan atau dilanjutkan. Dan finally, saya memutuskan untuk menghapusnya saja. Tapi jangan khawatir, tulisan backupnya saya gabungin di Shintaries.com. Lumayan kan nambah trepik *efek abis lihat bounce ratenya tinggi banget hahaha.

Tapi ternyata, saya sentimentil banget. Ngerasa sedih habis melihat blog tarikkoper.com terakhir kali sebelum saya hapus. Duh poto-potonya keren, tampilannya oke, trepiknya juga lumayan, dan banyak yang terbantu dengan artikel yang ada di situ. Rasanyaa, mak nyess *apa sih. Sedih beneran sedih. Saya ngga nyangka aja, bisa sedalam ini perasaan sama blog wkwkwkw.

Ya sudah, setelah tulisan ini terpublish saya mau meng-uninstall tarikkoper.com. Mampir yaa ke shintaries.com kalau mau cari tulisan travelnya ^^.

Si Calistung

Jadi waktu itu, lagi heboh-hebohnya tentang calistung karena ada ibu yang cukup berpengaruh yang ngetweet tentang calistung ini. Pasti tau deh kalo emak-emak ya hehehe. Karena jadinya kan heboh banget dan banyak yang komen sana-sini. Tapi saya, kayaknya mendingan nulis di blog, itu pun setelah hebohnya hilang. Males soalnya berdebat sana-sini. Jadi saya cuman mau share aja, antara ngikutin saran pemerintah (yaitu tidak calistung sewaktu TK) dan ngga ngikutin (alias calistung waktu TK).

Untungnya saya punya dua anak yang bisa diuji coba hehehe. Jadi saya ama suami memang mengakui, mau tidak mau, anak-anak akan menjadi uji coba setiap kebijakan yang kita buat. Apa mau dikata, tidak seperti jaman dulu yang semuanya sudah fixed dan tinggal ngikutin. Hidup di jaman sekarang ini serba tidak jelas, terutama untuk mengambil keputusan yang tepat.

Jadi kami menguji bagaimana pengaruh antara calistung kepada dua anak saya. Baik itu untuk masa depan (dalam hal ini adalah masuk sekolah) dan proses belajarnya. Sewaktu melakukan hal ini, sama sekali sih ngga pernah berpikir kalo diluar negeri gimana, kalo ngga diajarin gimana, kalo diajarin gimana. Jadi betul-betul fokus hanya ke tujuan sekolah anak. Which is, berbanding terbalik dengan yang ditetapkan pemerintah dan yang ada di lapangan.

Kasus Pertama

Anak pertama saya, Aliya yang imut itu. Sekolah dalam usia yang masih muda. Karena lahirnya di akhir tahun jadi berasa sangat tanggung. Saya yang punya pengalaman sekolah usia muda, merasa tidak masalah dan tidak terbatasi dengan usia, toh nyatanya saya mampu bersaing dengan yang satu kelas dan usia lebih tua. Well, karena waktu itu katanya calistung dilarang diajarkan pada anak TK. Saya juga berpikir untuk tidak mengajarkannya calistung. Tapi hal berbeda ternyata terjadi di sekolah. Tentunya diajarkan calistung bahkan membuka les calistung juga setelah sekolah usai.

Alasannya sih karena SD mewajibkan anak-anak wajib sudah bisa calistung untuk diterima. Saya cross check ke ibu saya, blio jawab TIDAK. Sekolah tidak menerima anak berdasarkan kemampuan calistung tetapi berdasarkan usia. Noted!. Dan yang terjadi, saya tidak mengajari Aliya, tidak mengeleskannya, tidak memaksanya belajar, tapi Aliya masih bisa calistung dasar namun tidak lancar membaca. Saya lebih senang melihat Aliya bermain ketimbang belajar. Maklum ibu baru yang pengen dilihat baik sama anaknya.

Tapi yang terjadi kemudian saat sekolah, kejadian tidak mengenakkan terjadi. Aliya yang tidak lancar membaca ternyata menjadi masalah di sekolah. Hampir semua temannya sudah bisa membaca. Dan pelajaran di sekolah menjadi cukup rumit karena basisnya tetap harus dibaca. Setiap hari Aliya menjadi sedih dan nangis karena keterbatasannya. Saya juga jadi mengajari membaca setiap malam, tapi tidak mampu mengejar ketertinggalan.

Akhirnya, keputusan baru saya ambil. Membaca adalah kuncinya pada saat sekolah SD. Dan kemudian saya leskan membaca dan berhitung sekalian di komplek sebelah yang memiliki metode cepat. And guess what, dalam waktu sebulan saja, Aliya sudah lancar membaca. Semua jadi terasa mudah untuk dia. Mungkin saja memang sudah saatnya belajar dan memang waktunya hanya dikhususkan untuk belajar.

Dalam waktu singkat, kemampuannya membacanya terus terasah. Sewaktu ujian mid semester, dia juga tidak mengalami kesulitan yang berarti. Bahkan gurunya sampai terheran-heran, bagaimana caranya meningkatkan kemampuan membaca hanya dalam waktu singkat. Dan seketika semua menjadi menyenangkan, Aliya sangat betah sekolah dan tidak tersiksa dengan pelajaran lagi. Bahkan sekarang dia bisa bilang kalau libur itu ngga enak mah hehehe.

Kasus Kedua

Anak kedua saya Rafi, hanya berbeda setahun dengan kakaknya. Tepatnya sebelas bulan hehehe. Jadi sewaktu Aliya masuk sekolah kelas satu, maka kami juga harus menyiapkan Rafi untuk sekolah. Yang artinya, berdasarkan pengalaman terdahulu, Rafi sudah harus dipastikan bisa membaca. Peduli amat dengan anjuran pemerintah, dengan studi-studi tentang membaca sejak dini, toh kita yang ngejalanin bahkan yang repot kita sendiri kalau tidak mengetahui apa yang terbaik untuk anak.

Jadi sewaktu Aliya les calistung, Rafi juga ikut les. Dan Rafi juga memaksa ikut les di sekolah karena banyak teman sekelasnya yang belajar. Pada dasarnya dia sangat kompetitif sekali, jadi minat belajarnya sangat tinggi terutama untuk menjadi yang terbaik. Buat saya, yang terpenting dia bisa membaca dan berhitung. Titik.

Saya ngga mau dia mengalami hal yang bisa menyebabkan depresi kecil seperti kakaknya. Paling tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan memahami dengan benar. Dan capek-capeknya dia belajar ternyata terbayar. Dalam ujian masuk sekolah SD yang katanya psikotes tapi berbentuk soal *saya gagal paham. Rafi bisa dengan mulus mengerjakan dan merasa tidak tertekan dengan hasilnya, yang dia tau bahwa dia bisa. Dia juga bersemangat sekolah SD dengan alasan sekolah SD pulang lebih cepat hehehe.

Jadi kesimpulan akhirnya, tidak masalah kapan pun mau diajarkan calistung ke anak. Yang terpenting saat dia belajar, dia sudah siap. Saat kasus Aliya, dia bisa merasakan bahwa belajar membaca itu penting, sehingga dia tidak merasa terpaksa belajar membaca. Toh saat dia TK dia memang kelihatan lebih senang bermain dan saya membiarkannya. Tapi saat sudah SD, tiba-tiba ada rasa muncul tanggung jawab untuk bisa sekolah dengan baik yang kuncinya adalah membaca.

Pada kasus kedua, Rafi juga menyadari bahwa dia akan kesulitan sekolah kalau dia tidak bisa membaca. Jadi dia sama sekali tidak mengeluh kalau harus belajar les lagi seusai sekolah dengan periode waktu yang panjang dan cukup ketat. Pada akhirnya, semua bisa hepi juga belajar terlepas apa yang disarankan oleh pemerintah. Kuncinya saya rasa tetap di orang tua, yang harus mengenali potensi, kemampuan, kebutuhan anaknya. Intinya, tetap aja harus calistung sejak dini, menurut saya loh wekekek.

Karena Tujuan Kita Sama

Kayaknya udah agak mendingan, udah agak slowing down tentang hebohnya di socmed itu. Apalagi kalau bukan Mom War yang ngga ada habisnya. Iya, masalah klasik banget. Yang setiap mommy baru pasti punya euforia tersendiri atas keberhasilannya yang luar biasa. Tapi tanpa disadari, setiap pencapaian yang didapat, tidak semua mommy bisa mengalami hal yang sama.

Yah, bukan orang Indonesia namanya kalau tidak saling menggunjing, saling menyakiti, saling merasa benar, saling merasa hebat, pokoknya saling banget deh wekekek. Ngga terpaku dari kalangan mana, hal kaya gini nih yang harusnya udah diberantas mulai dari kita. Iya, kita. Mommy yang ngakunya modern. Yang lebih bisa merasakan empati setiap orang dan stop untuk bertanya atau pun menggurui.

Biasanya saya ngga ambil pusing, tapi lihat ada yang terlalu membesar-besarkan masalah yang rasanya ngga sebesar itu, kok saya jadi ikutan pusing sendiri. Yah, saya sih baru banget jadi mommy. Baru 8 tahunan kok, dengan anak usia 7 tahun dan 6 tahun. Belum cukup banget ngomentarin, ngajarin sana sini, menggurui sana sini, karena saya yakin setiap mom punya masalah masing-masing dan punya medan perang yang berbeda.

Dan kalo lagi mellow gini, saya suka ngubek-ngubek timeline Facebook saya dan menemukan video tentang ibu dan anak yang saya buat setahun yang lalu. Lalu tiba-tiba tersadar, tujuan kita sama kok mom. Hanya ingin berbuat yang terbaik untuk anak. Iya kan…

Kalau Saja…

Saya sebetulnya agak sedikit terkaget-kaget dengan komentar yang masuk ke blog saya. Iya, komentar anak perempuan kelas lima SD yang memanggil saya tante hehehe. Karena saya anak paling besar, sudah biasa sebetulnya dipanggil bude oleh keponakan saya. Tapi, keponakan tertua umurnya baru satu tahun. Sisanya yang memanggil tante adalah teman-teman anak saya, yang masih berasa aneh karena kebanyakan mereka memanggil saya dengan mbak. Mungkin karena saya terlihatnya bukan seperti ibu-ibu pada umumnya *pasang sepatu roda.

Harusnya saya sudah tidak heran. Dengan perkembangan internet yang mudah diakses siapa saja, anak SD pun sudah mampu untuk menemukan berbagai informasi. Tapi tetap saja saya bisa terbengong-bengong menemukannya di blog saya. Maklum, anak tertua saya baru berusia 7 tahun yang hanya menggunakan Youtube untuk belajar make up tutorial *emak yang aneh.

Untungnya, anak tersebut komen di postingan saya yang tentang sebuah museum di Jakarta yang akan dia kunjungi bersama teman-temannya sekelasnya. Sebuah museum cantik ke tengah kebun, yang memang sarat dengan edukasi walaupun suasananya agak sedikit creepy. Dan untuk keamanan, sayangnya mereka tidak lagi menerima pengunjung usia SD.

Tapi kemudian yang saya bayangkan adalah…Bagaimana seandainya, saya yang seorang penulis blog. Yang selalu menulis isu-isu masalah dewasa seperti yang dilakukan blogger cewe (punya anak) yang saya kenal dan banyak yang mendukungnya. Yang secara gamblang menuliskan mengenai sel*ngkangan, pel*c*ran, s*k*, dan hal yang saya sendiri itu risih membacanya. Trus tulisan saya itu ngga sengaja ditemukan oleh anak saya sendiri. Wew, ngga bisa bayangin.

Makanya, saya suka heran. Masih aja ada yang bangga menulis hal-hal yang sifatnya ngga layak untuk dibaca walaupun itu berupa studi atau tulisan ilmiah. Yang mungkin menurut dia ngga terlalu parah. Tapi kalau ternyata tulisan tersebut terbaca anaknya atau anak lain yang entah bagaimana caranya, mau ngomong apa coba.

Saya sendiri, yang punya anak usia SD masih khawatir dan was-was mengajarkan komputer. Iya, SD kelas 1 sekarang ada pelajaran komputernya. Yang mengingat saya udah bisa buat formula hitungan jaman pertama kali kenal komputer waktu SMP. Ngga heran kan saya punya ketakutan luar biasa kalau dia akan lebih jago dari saya. Baik itu dalam hal browsing ataupun sekedar bermain teknologi.

Kalau sudah begini, saya kudu banyak baca hal tentang teknologi yang bisa memprotect semua kegiatan yang ngga seharusnya dilihat. Tapi sejauh mana sih saya akan tetap melakukan hal itu. Kalau saja environment internet itu positif dan sehat, tentunya saya ngga akan khawatir berlebihan seperti ini. Ah tapi ini mungkin ketakutan saya aja sih ya.

Bukan Ngga Mau Disebut Penulis, Tapi…

Pake acara ada tapinya sih wekekek. Ini gara-gara ada email masuk mau kerjasama dengan blog utama. Ngga taunya di akhir acara email, yang kirim bilang gini, saya juga penulis kaya mba Shinta. Oh iya, ya. Saya baru nyadar sebenernya, kalau di luar sana banyak yang menganggap saya ini penulis hehehe. Sejujurnya saya jadi tersanjung banget. Saya sendiri ngga merasa saya ini penulis.

Buat saya, menulis itu adalah kegiatan yang intelektual banget. Jadi yang ada di kepala saya, seorang penulis itu sangat intelek (masih jaman ngga sih bahasa ini wkwkwk). Dan saya sendiri jauh dari kata itu. Apalagi saya sebetulnya selalu merasa kesulitan di pelajaran Bahasa Indonesia dan mengarang bebas. Maka dari itu saya agak antipati ama bahasa dan lebih memilih buat ngitung aja deh.

Definisi penulis yang saya pahami lainnya adalah adanya hasil karya tulisan. Yaitu buku, tulisan di koran, tulisan di majalah, atau di mana aja. Tapi saya? Biarpun udah dipaksa-paksa dan agak berminat menulis buku, tetap aja kayaknya kok bukan jalur saya hehehe. Akhirnya keinginan nulis di mana-mana itu ngga pernah tercapai karena ngga kepengen. Dari situ akhirnya saya ngga pernah ngaku saya penulis wkwkwk.

Masalah tulis menulis, sebenernya emang udah dari SD saya memaksakan untuk menulis. Maklum gara-gara berteman dekat sama penggila komik, yang hobi nulis cerita dia sendiri. Mau ngga mau, saya ikutan baca kisahnya dan ikutan setor cerita juga. Trus beberapa kali juga ikutan lomba sinopsis yang entah kenapa bisa menang. Di tambah lagi, SMA jadi anak teater yang kudu berhubungan dengan cerita dan skrip. Secara ngga sadar memang bakat nulis saya agak sedikit terasah. Paling tidak itulah yang membuat saya mulai ngeblog sepuluh tahun lalu. Murni buat nulis, masalah kodingnya tertarik belakangan.

Katanya kalo ngga suka baca ngga mungkin bisa nulis. Saya pernah ngaku kalau belakangan saya ngga suka baca, bahkan sudah tidak ada buku yang saya baca lagi. Tapi memang sih, jaman kecil saya maniak baca. Berjejer komik, novel, buku pelajaran, kamus masih tersimpan rapi walaupun ada beberapa yang kucel karena bacanya buat nemenin ngantuk. Terakhir buku yang saya baca malah buku saku kode CSS yang saya beli di SG wekekek. Sisanya? Ngga ada satupun yang berhasil menarik perhatian saya untuk membaca.

Alih-alih karena kebanyakan baca, saya jadi tau jalan cerita sebuah novel bahkan saat belum selesai. Dan biasanya saya skip dan lihat endingnya trus sambil bilang “tuh kan bener”. Hahaha. Tapi agak berbeda dengan novel luar yang kayaknya lebih menyenangkan. Terbukti saya sampai baca 2-3x seri Twilight dari buku pertama sampai terakhir. Oia buku terakhir yang saya baca juga punyanya Andrea Hirata, tapi paling sering baca yang Edensor. Yah tema-tema gitulah yang menarik saya. Dan kayaknya itu terakhir kali saya membaca. Kalo sekarang disuruh baca, saya langsung ngantuk 😦

Balik lagi ke masalah menulis. Sempet kaget juga sih waktu ada temen yang bilang kalau tulisan saya dan cara berbicara saya itu sama. Which is katanya agak susah buat sebagian orang. Beberapa ada yang pintar menulis tapi dalam berbicara masih kagok. Atau malah sebaliknya, pintar berbicara namun ngga pandai menulis. Dan agak sedikit tersanjung juga sih dibilang begitu. Malah ada temen juga yang bilang, gaya tulisan saya berbeda dengan blogger pada umumnya. Ada beberapa hal yang blogger lain ngga tau tapi saya bisa menulisnya dengan gaya berbeda. Hahaha.

Sejujurnya, saya bukannya ngga paham cara menulis yang menarik, tapi saya selalu berlindung di balik kata “Saya bukan penulis”. Iya, saya ngga pede menyebut diri saya penulis. Saya ngga punya karya, ngga memakai pakem penulisan pada umumnya, dan sedikit bersenang-senang dengan tulisan saya. Jadi wajar aja kalau saya melihat penulis lainya, saya selalu merasa kalau penulis itu ada di atas saya. Ya kalau ada yang bilang saya penulis, saya makasih banget. Tapi saya lebih senang disebut blogger nampaknya ^^.

Apa yang Salah dengan Metromini

Kadang saya suka iseng, klik sana sini iklan yang beredar. Suka memperhatikan dari segi copywriting dan nebak-nebak berapa konversi yang dia dapat. Kadang malah jadi kepo dia ngiklan di mana aja. Lagi iseng baca iklan sebuah MLM di landing page, eh salah satu kata katanya ada “Kami terbiasa naik METROMINI”. Kata Metromininya di capslock semua. Ngga ada kata lain cuma satu kalimat aja.

Saya jadi bingung bacanya. Ada yang salah dengan Metromini? Karena kalimat tersebut terletak di bagian yang intinya ” kami dulu susah”. Sekarang udah ngga susah karena naik mobil. Lha macam OKB ajah jadinya wekekek. Tapi masa iya sih orang yang terbiasa naik metromini termasuk kategori susah.

Saya sendiri adalah penggemar metromini. Dan buat saya, metromini adalah salah satu transportasi yang bagus dan tepat untuk kawasan Jakarta. Konsepnya sudah teruji mampu menjangkau seluruh kota dengan tarif yang sangat murah. Mana ada sih angkutan yang bisa menjangkau dari ujung barat ke tengah kota Jakarta atau ujung selatan ke tengah. Semua jalurnya sangat merata dan enaknya bisa turun di mana saja. Ngga harus di halte tertentu atau naik tambahan angkot kalau yang dituju ada di pinggir jalan. Apalagi saking ngebutnya kejar setoran, bisa tiba lebih cepat dan saking jagonya itu supir bisa minim sekali kecelakaan.

Dan saya salah satunya yang bersyukur ada metromini dan bisa naik tiap hari sewaktu harus menjelajah Jakarta. Sejauh yang saya tau, belum ada yang menandingi kehebatan metromini dalam hal jangkauan. Sebut saja kereta api dan Trans Jakarta. Untuk kawasan lebih sempit, satu-satunya yang bisa menyaingi hanyalah angkutan kota. Bahkan ojek dan bajaj pun terasa mahal buat saya.

Saya yakin, dalam beberapa waktu ke depan metromini akan menjadi salah satu transportasi yang dipakai lebih banyak orang. Iyalah kalau harga BBM udah selangit, orang mikir bisa beli mobil tapi ngga bisa beli bensin. Dan terasa lebih efisien dan efektif dengan mengunakan angkutan Metromini. Dan kalimat Kami terbiasa naik METROMINI bisa jadi berubah menjadi Kami terbiasa naik METROMINI lagi wekekek *becanda.

Trus dimana kelihatan susahnya? Apa karena harus berdesakan, yang padahal nunggu berikutnya juga bisa. Atau banyak copet yang kalau kita tidak memancing dengan mengeluarkan smartphone juga bisa aman. Atau panasnya dalam metromini yang kayaknya belahan Indonesia mana sih yang ngga panas. Atau takut pemerasan yang mereka padahal cuman minta seribu dua ribu perak aja. Atau kemacetan luar biasa yang bikin bosan, yang bisa aja tidak kita rasakan. Atau ini atau itu. Ah perasaan situ aja kali.

Iya perasaan dalam diri sendiri kalau naik metromini adalah bentuk kesusahan dan terhina. Rasanya naik metromini bisa jadi jualan yang menarik di landing page itu, tapi ngga buat saya. Karena apa? Saya suka sekali dengan quote ini :

Orang yang tidak bisa bahagia dengan memiliki sedikit maka dia tidak akan bahagia juga dengan memiliki banyak.

Soal Copasan Itu

Ngga terlalu heboh lagi perasaan kasusnya hehehe. Kebetulan teman baik saya yang melakukan sedikit sanksi moral kepada yang melakukannya. Cukup heboh karena teman saya itu seorang blogger yang cukup berpengaruh. Kemudian, saya tau persis kalau teman saya itu ngga akan sembarangan saja berbicara tanpa memiliki bukti-bukti yang konkrit.

Awal mulanya, kami semua tidak mengira. Bahwa sosok yang sedemikian dekat dan sepertinya cukup dikenal berubah menjadi orang yang tidak paham etika. Saya pun mengenalnya sudah cukup lama. Masuk dalam komunitas yang sama dan sering datang ke acara bersama. Yang saya sayangkan, saat mengenalnya dulu pertama kali, orangnya sangat sopan, baik, dan polos. Iya orang yang sepertinya mudah terbawa arus dan terkadang bisa sedikit menghilangkan nuraninya untuk berbuat sesuatu yang merugikan.

Kopas mengkopas itu memang sesuatu yang ngga bisa dihindari. Siapa pun saya rasa ngga pernah luput dari hal ini. Saya juga selalu bilang, berapa pun besarnya usaha kita untuk memproteksi apa yang kita punya di dunia maya, bersiaplah untuk kemungkinan terburuk. Karena saya sendiri juga mampu menembus apa saja yang diproteksi itu, apalagi yang sudah niat sekali mengambil karya cipta kita. Tapi hal ini jadi tidak berlaku kalau kita tau dan mengenal orangnya.

Iya, bagaimana kalau kita mengenal orang yang mengkopas? kalau tidak kenal dan kita tidak tau tentu saja kita bisa cuek kan. Tapi kalau kita betul-betul kenal dan melihat dia melakukan tidak hanya sekali dua kali. Rasanya sudah kelewat batas kalau hanya didiamkan. Maka dari itu, butuhlah seorang yang berani membuat keputusan untuk memberikan sanksi moral tentunya atas nama kebenaran hati nurani.

Bukan karena kepo, bukan karena ada agenda tersembunyi, bukan karena cari sensasi, bukan karena iri hati kalah di lomba yang sama, bukan karena ada apa-apa. Ah apalah itu dibandingkan hati yang tercabik karena tulisan dikopas sedetail-detailnya. Berulang kali. Semua melihat dengan mata tertutup dan seolah membenarkan hal tersebut.

Dan buat saya, untuk seseorang yang sedang melihatnya dari kejauhan, kemudian menulisnya tanpa konfirmasi atau pun mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya. Hei, selamat datang di dunia penyiksaan moral.